Feature bertujuan untuk
menghibur dan mendidik melalui explorasi elemen-elemen manusiawi
(human interest).
Feature bisa berfungsi sebagai penjelasan
atau tambahan untuk berita yang sudah disiarkan sebelumnya, memberi
latar belakang suatu peristiwa, menyentuh perasaan dan
mengharukan, menghidang kan informasi dengan menghibur, juga bisa
mengungkap sesuatu yang belum tersiar sebagai berita.
Sambil tetap mempertahankan elemen
penulisan berita tradisional (5W + 1H) feature juga bisa berfungsi
sebagai penjelasan atau tambahan untuk berita yang sudah disiarkan
sebelumnya, memberi latar belakang suatu peristiwa, menyentuh
perasaan dan mengharukan, menghidang kan informasi dengan menghibur,
juga bisa mengungkap sesuatu yang belum tersiar sebagai berita.
Contoh pentingnya feature:
Menjelang akhir bulan ke 3
penyerbuan tentara Sekutu ke Irak, pembaca/pemirsa media massa yang
sudah tiap hari disajikan berita-berita perang itu mulai jenuh.
lead-lead yang berisi jumlah korban atau kerusakan akibat perang,
seolah makin tidak berarti. Menjadi hambar.... rating berita perang
itu terus menurun. Nah, jika redaksi ingin menggugah lagi perhatian
publik terhadap perang itu, dengan segala kekejaman dan kerusakan
yang diakibatkannya, salah satu yang bisa digunakan adalah: Feature!
Bisa tentang anak-anak yang terlunta-lunta di jalan-jalan kota yang
diamuk perang, tentang duka seseorang yang harus mengubur sebagian
besar `anggota keluarganya, dll.
Meski umumnya enak dibaca, dan
karenanya menghibur, feature kadang sarat dengan kadar keilmuan --
cuma pengolahannya secara populer. Juga dipakai untuk penulisan
berita-berita yang dihasilkan dari pengumpulan bahan yang
mendalam.
Dalam persaingan media yang kian ketat tak hanya
antar media cetak melainkan juga antara media cetak dengan televisi,
straight/spot news seringkali tak terlalu memuaskan. Spot news
cenderung hanya berumur sehari untuk kemudian dibuang, atau bahkan
beberapa jam di televisi. Spot news juga cenderung menekankan sekadar
unsur elementer dalam berita, namun melupakan latar belakang
peristiwa.
APAKAH FEATURE ITU?
Inilah batasan klasik
mengenai feature: ''Cerita feature adalah artikel yang kreatif,
kadang kadang subyektif, yang terutama dimaksudkan untuk membuat
senang dan memberi informasi kepada pembaca tentang suatu kejadian,
keadaan atau aspek kehidupan.''
Kreatifitas
Berbeda
dari penulisan berita biasa, penulisan feature memungkinkan reporter
''menciptakan'' sebuah cerita. Meskipun masih diikat etika bahwa
tulisan harus akurat -- karangan fiktif dan khayalan tidak boleh --
reporter bisa mencari feature dalam pikirannya, kemudian setelah
mengadakan penelitian terhadap gagasannya itu, ia menulis.
Informatif
Feature,
yang kurang nilai beritanya, bisa memberikan informasi kepada
masyarakat mengenai situasi atau aspek kehidupan yang mungkin
diabaikan dalam penulisan berita biasa di koran. Misalnya tentang
sebuah museum atau kebun binatang yang terancam tutup.
Aspek
informatif mengenai penulisan feature bisa juga dalam
bentuk-bentuk
lain. Ada banyak feature yang enteng-enteng saja, tapi bila berada di
tangan penulis yang baik, feature bisa menjadi alat yang ampuh.
Feature bisa menggelitik hati sanubari manusia untuk menciptakan
perubahan konstruktif.
Menghibur
Lebih
dari 20 tahun terakhir ini, feature menjadi alat penting bagi
suratkabar untuk bersaing dengan media elektronika. Reporter
suratkabar mengakui bahwa mereka tidak akan bisa ''mengalahkan''
wartawan radio dan televisi untuk lebih dulu sampai ke masyarakat.
Wartawan radio dan TV bisa mengudarakan cerita besar hanya dalam
beberapa menit setelah mereka tahu. Sementara itu wartawan koran
sadar, bahwa baru beberapa jam setelah kejadian, pembacanya baru bisa
tahu sesuatu kejadian -- setelah koran diantar.
Wartawan
harian, apalagi majalah, bisa mengalahkan saingannya, radio dan TV,
dengan cerita eksklusif. Tapi ia juga bisa membuat versi yang lebih
mendalam (in depth) mengenai cerita yang didengar pembacanya dari
radio.
Dengan patokan seperti ini dalam benaknya, reporter
selalu mencari feature, terhadap berita-berita yang paling hangat.
Cerita feature biasanya eksklusif, sehingga tidak ada kemungkinan
dikalahkan oleh radio dan TV atau koran lain.
Feature
memberikan variasi terhadap berita-berita rutin seperti pembunuhan,
skandal, bencana dan pertentangan yang selalu menghiasi kolom-kolom
berita, feature bisa membuat pembaca tertawa tertahan.
Seorang
reporter bisa menulis ''cerita berwarna-warni'' untuk menangkap
perasaan dan suasana dari sebuah peristiwa. Dalam setiap kasus,
sasaran utama adalah bagaimana menghibur pembaca dan memberikan
kepadanya hal-hal yang baru dan segar.
A w e t
Menurut
seorang wartawan kawakan, koran kemarin hanya baik untuk bungkus
kacang. Unsur berita yang semuanya penting luluh dalam waktu 24 jam.
Berita mudah sekali ''punah'', tapi feature bisa disimpan berhari,
berminggu, atau berbulan bulan. Koran-koran kecil sering membuat
simpanan ''naskah berlebih'' – kebanyakan feature. Feature ini
diset dan disimpan di ruang tata muka, karena editor tahu bahwa nilai
cerita itu tidak akan musnah dimakan waktu.
Dalam kacamata
reporter, feature seperti itu mempunyai keuntungan lain. Tekanan
deadline jarang, sehingga ia bisa punya waktu cukup untuk mengadakan
riset secara cermat dan menulisnya kembali sampai mempunyai mutu yang
tertinggi.
Sebuah feature yang mendalam memerlukan waktu
cukup. Profil seorang kepala polisi mungkin baru bisa diperoleh
setelah wawancara dengan kawan-kawan sekerjanya, keluarga,
musuh-musuhnya dan kepala polisi itu sendiri. Diperlukan waktu juga
untuk mengamati tabiat, reaksi terhadap keadaan tertentu perwira
itu.
Subyektifitas
Beberapa
feature ditulis dalam bentuk ''aku'', sehingga memungkinkan reporter
memasukkan emosi dan pikirannya sendiri. Meskipun banyak reporter,
yang dididik dalam reporting obyektif, hanya memakai teknik ini bila
tidak ada pilihan lain, hasilnya bisa enak dibaca.
Tapi,
reporter-reporter muda harus awas terhadap cara seperti itu.
Kesalahan umum pada reporter baru adalah kecenderungan untuk
menonjolkan diri sendiri lewat penulisan dengan gaya
''aku''.
Kebanyakan wartawan kawakan memakai pedoman begini:
''Kalau Anda bukan tokoh utama, jangan sebut-sebut Anda dalam tulisan
Anda.''
Singkat kata, berbeda dengan berita, tulisan feature
memberikan penekanan yang lebih besar pada fakta-fakta yang penting
-- fakta-fakta yang mungkin merangsang emosi (menghibur, memunculkan
empati, disamping tetap tidak meninggalkan unsur informatifnya).
Karena penekanan itu, tulisan feature sering disebut kisah human
interest atau kisah yang berwarna.
MENCARI GAGASAN DAN
JENIS-JENIS FEATURE
Ide feature itu bisa diperoleh dari
berbagai hal. Bisa dari kelanjutan berita-berita aktual, bisa
mendompleng hari-hari tertentu, atau profil tokoh yang sedang ramai
dibicarakan. Yang penting ada newspeg (cantelan berita), karena
feature bukan fiksi. Ia fakta yang ditulis dengan gaya mirip fiksi.
Kita bisa menggali ide dengan menengok beberapa jenis feature di
bawah ini
1. Feature kepribadian (Profil) : Profil
mengungkap manusia yang menarik. Misalnya, tentang seseorang yang
secara dramatik, melalui berbagai liku-liku, kemudian mencapai karir
yang istimewa dan sukses atau menjadi terkenal karena kepribadian
mereka yang penuh warna. Agar efektif, profil seperti ini harus lebih
dari sekadar daftar pencapaian dan tanggal tanggal penting dari
kehidupan si individu. Profil harus bisa mengungkap karakter
manusia
itu.
Untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan, penulis
feature tentang pribadi seperti ini seringkali harus mengamati subyek
mereka ketika bekerja; mengunjungi rumah mereka dan mewawancara
teman-teman, kerabat dan kawan bisnis mereka. Profil yang komplit
sebaiknya disertai kutipan-kutipan si subyek yang bisa menggambarkan
dengan pas karakternya. Profil yang baik juga semestinya bisa
memberikan kesan kepada pembacanya bahwa mereka telah bertemu dan
berbicara dengan sang tokoh.
Banyak sumber yang diwawancara
mungkin secara terbuka berani mengejutkan Anda dengan mengungkap
rahasia pribadi atau anekdot
tentang si subyek. Tapi, banyak
sumber lebih suka meminta agar
identitasnya dirahasiakan.
Informasi sumber-sumber itu penting untuk memberikan balans dalam
penggambaran si tokoh.
2. Feature sejarah : Feature
sejarah memperingati tanggal-tanggal dari peristiwa penting, seperti
proklamasi kemerdekaan, pemboman Hiroshima atau pembunuhan
jenderal-jenderal revolusi. Koran juga sering menerbitkan feature
peringatan 100 tahun lahir atau meninggalnya seorang tokoh.
Kisah
feature sejarah juga bisa terikat pada peristiwa-peristiawa mutakhir
yang memangkitkan minat dalam topik mereka. Jika musibah gunung api
terjadi, Koran sering memuat peristiwa serupa di masa lalu.
Feature
sejarah juga sering melukiskan landmark (monumen/gedung) terkenal,
pionir, filosof, fasilitas hiburan dan medis, perubahan dalam
komposisi rasial, pola perumahan, makanan, industri, agama dan
kemakmuran.
Setiap kota atau sekolah memiliki peristiwa menarik
dalam sejarahnya. Seorang penulis feature yang bagus akan mengkaji
lebih tentang peristiwa-peristiwa itu, mungkin dengan dokumen
historis atau dengan mewawancara orang-orang yang terlibat dalam
peristiwa-peristiwa bersejarah.
3. Feature Petualangan :
Feature petualangan melukiskan pengalaman-pengalaman istimewa dan
mencengangkan -- mungkin pengalaman seseorang yang selamat dari
sebuah kecelakaan pesawat terbang, mendaki gunung, berlayar keliling
dunia pengalaman ikut dalam peperangan.
Dalam feature jenis ini,
kutipan dan deskripsi sangat penting. Setelah bencana, misalnya,
penulis feature sering menggunakan saksi hidup untuk merekontruksikan
peristiwa itu sendiri. Banyak penulis feature jenis ini memulai
tulisannya dengan aksi -- momen yang paling menarik dan paling
dramatis.
4. Feature Musiman : Reporter seringkali
ditugasi untuk menulis feature tentang musim dan liburan, tentang
Hari Raya, Natal, dan musim kemarau. Kisah seperti itu sangat sulit
ditulis, karena agar tetap menarik, reporter harus menemukan angle
atau sudut pandang yang segar. Contoh yang bisa dipakai adalah
bagaimana seorang penulis menyamar menjadi Sinterklas di Hari Natal
untuk merekam respon atau tingkah laku anak-anak di seputar hari raya
itu.
5. Feature Interpretatif :Feature dari jenis ini
mencoba memberikan deskripsi dan penjelasan lebih detil terhadap
topik-topik yang telah diberitakan. Feature interpretatif bisa
menyajikan sebuah organisasi, aktifitas, trend atau gagasan tertentu.
Misalnya, setelah kisah berita menggambarkan aksi terorisme, feature
interpretatif mungkin mengkaji identitas, taktik dan tujuan
terorisme.
Berita memberikan gagasan bagi ribuan feature semacam
ini. Setelah perampokan bank, feature interpretatif bisa saja
menyajikan tentang latihan yang diberikan bank kepada pegawai untuk
menangkal perampokan. Atau yang mengungkap lebih jauh tipikal
perampok bank, termasuk peluang perampok bisa ditangkap dan
dihukum.
6. Feature Kiat (how-to-do-it feature) :
Feature ini berkisah kepada pembacanya bagaimana melakukan sesuatu
hal: bagaimana membeli rumah, menemukan pekerjaan, bertanam di kebun,
mereparasi mobil atau mempererat tali perkawinan. Kisah seperti ini
seringkali lebih pendek ketimbang jenis feature lain dan lebih sulit
dalam penulisannya.
Reporter yang belum berpengalaman akan
cenderung menceramahi atau mendikte pembaca -- memberikan opini
mereka sendiri -- bukannya mewawancara sumber ahli dan memberikan
advis detil dan faktual.
Note: Bercerita!
Hidupkan imajinasi pembaca!
Jika dalam penulisan
berita yang diutamakan ialah pengaturan fakta-fakta (Masih ingat?
struktur piramida terbalik dengan penempatan hal terpenting di
atas!), maka dalam penulisan feature kita dapat memakai teknik
''mengisahkan sebuah cerita''. Memang itulah kunci perbedaan antara
berita ''keras'' (spot news) dan feature. Penulis feature pada
hakikatnya adalah seorang yang berkisah.
Melukislah dengan
kata-kata! Penulis feature melukis gambar dengan kata-kata: ia
menghidupkan imajinasi pembaca; ia menarik pembaca agar masuk ke
dalam cerita itu dengan membantunya mengidentifikasikan diri dengan
tokoh utama.
Penulis feature untuk sebagian besar tetap
menggunakan penulisan jurnalistik dasar, karena ia tahu bahwa
teknik-teknik itu sangat efektif untuk berkomunikasi. Tapi bila ada
aturan yang mengurangi kelincahannya untuk mengisahkan suatu cerita,
ia segera menerobos aturan itu. Konsep ''piramida terbalik'' sering
ditinggalkan. Terutama bila urutan peristiwa sudah dengan sendirinya
membentuk cerita yang baik.
Elemen Feature
Terpenting: Deskripsi dan Narasi
(LUKISKAN, BUKAN
KATAKAN!)
Pernahkah Anda membaca sebuah tulisan
dan sampai bertahun kemudian mengingat deskripsi dalam tulisan
itu?
Kita umumnya terkesan pada sebuah tulisan yang mampu melukis
secara kuat gambaran di dalam otak kita. Deskripsi yang kuat adalah
alat yang digdaya bagi para penulis, apapun yang kita tulis: esai,
artikel, feature, berita, cerpen, novel atau puisi.
Bagaimana
cara belajar membuat deskripsi yang kuat dan hidup?
Cara terbaik
untuk melakukannya adalah menerapkan konsep "Show-Not-Tell"
atau "Lukiskan, bukan Katakan". Ubahlah pernyataan yang
kering dan kabur menjadi paragraf berisi ilustrasi
memukau.
Perhatikan kalimat ini: "Nasib nenek itu sangat
malang"
Kalimat "mengatakan/telling" di atas bisa
diubah menjadi paragraf "melukiskan/showing" seperti
paragraf di bawah ini:
Umurnya 60 tahun. Dia hidup sebatang
kara. Para tetangganya, orang-orang papa yang tinggal di gubuk kardus
perkampungan liar-kumuh Kota Bandung, mengenalnya dengan nama
sederhana: "Emak". Tidak ada yang tahu nama aslinya. Awal
pekan ini, Emak ditemukan meninggal, tiga hari setelah para
tetangganya melihatnya hidup terakhir kali. "Sejak Jumat pekan
lalu, Emak tidak pernah kelihatan," kata seorang tetangganya.
"Saat gubuknya dilongok, Emak sudah terbujur kaku di
dalam."
Jika kita menggunakan konsep "Show Not
Tell", paragraf-paragraf akan terbentuk secara alami, kuat,
hidup dan mudah dikenang.
HINDARI KATA KETERANGAN/KATA
SIFAT
Feature yang bagus memaparkan soal
yang kongkret dan spesifik. Salah satu caranya adalah dengan
menghindari kata-kata sifat seperti tinggi, kaya, cantik, dan kata
tak tidak spesifik, cukup besar, lumayan heboh, keren abis.
''Kata
sifat adalah musuh bebuyutan kata benda,'' kata pujangga Prancis
Voltaire.
Contoh:
1. Konser Peterpan itu heboh banget.
kata
sifat "Heboh banget" akan lebih kongkret dan spesifik jika
"dilukiskan" sebagai berikut:
Konser Peterpan di
Gelanggang Senayan dihadiri oleh 50.000 penonton. Tiket seharga Rp
200 sudah habis ludes sebulan sebelum pertunjukan. Penonton yang
rata-rata siswa SMP dan SMA berdesak-desakan. Duapuluh orang pingsan,
ketika para penonton berjingkrak mengikuti lagu "Ada Apa
Denganmu".
2. Ahmad seorang petani miskin.
Deskripsikan
pernyataan Ahmad yang miskin dengan: Ahmad tinggal bersama seorang
istri dan anaknya di gubuk beratap
rumbia. Tiap hari mereka hanya
bisa makan sekali, itupun nasi jagung tanpa lauk.
3. Mak Munah
marah besar.
Tanpa perlu menyebut Mak Munah marah besar,
tapi:
"Pemerintah zalim!" geram Mak Munah, istri seorang
nelayan yang suaminya tak bisa ke laut karena kanaikan harga solar.
STRUKTUR PENULISAN
FEATURE
Lead
Mari kita tinggalkan definisi apa itu
feature dan kita langsung ke teknik penulisannya. Ini yang lebih
penting. Kita tahu bahwa berita umumnya ditulis dengan teknik
piramida terbalik dan harus memenuhi unsur 5 W + 1 H (what, who, why,
when, where: apa, siapa, mengapa, kapan, di mana, bagaimana).
Untuk
penerbitan berupa koran, susunan piramida terbalik ini penting karena
jika terjadi pemotongan karena tak ada tempat, pemotongan langsung
dilakukan dari bagian belakang. Ini berarti lead berita itu pastilah
yang terpenting dari isi berita itu sendiri. Ini harus memikat, tanpa
itu berita tak menarik perhatian. Feature hampir sama dalam masalah
lead, artinya harus memikat.
Tetapi feature tidak tunduk pada
ketentuan piramida terbalik. Feature ditulis dengan teknik lead,
tubuh dan ending (penutup). Penutup sebuah feature hampir sama
pentingnya dengan lead. Mungkin di sana ada kesimpulan atau ada
celetukan yang menggoda, atau ada sindiran dan sebagainya. Karena itu
kalau memotong tulisan feature, tak bisa main gampang mengambil
paling akhir.
Semua bagian dalam feature itu penting. Namun yang
terpenting memang lead, karena di sanalah pembuka jalan. Gagal dalam
menuliskan lead pembaca bisa tidak meneruskan membaca. Gagal berarti
kehilangan daya pikat. Di sini penulis feature harus pandai betul
menggunakan kalimatnya. Bahasa harus rapi dan terjaga bagus dan cara
memancing itu haruslah jitu.Tak ada teori yang baku bagaimana menulis
lead sebuah feature. Semuanya berdasarkan pengalaman dan juga
perkembangan. Namun, sebagai garis besar beberapa contoh lead saya
sebutkan di sini:
Lead Ringkasan:
Lead ini hampir sama saja dengan berita
biasa, yang ditulis adalah inti ceritanya. Banyak penulis feature
menulis lead gaya ini karena gampang.
Misal:
Walaupun
dengan tangan buntung, Pak Saleh sama sekali tak merasa rendah diri
bekerja sebagai tukang parkir di depan kampus itu.
Pembaca
sudah bisa menebak, yang mau ditulis adalah tukang parkir bernama Pak
Saleh yang cacat. Yang berminat bisa meneruskan membaca, yang tak
berminat -- apalagi sebelumnya tak ada berita tentang Pak Saleh itu
-- bisa melewatkan begitu saja.
Lead Bercerita:
Lead ini menciptakan suatu suasana dan
membenamkan pembaca seperti ikut jadi tokohnya.
Misal:
Anggota
Reserse itu melihat dengan tajam ke arah senjata lelaki di depannya.
Secepat kilat ia meloncat ke samping dan mendepak senjata lawannya
sambil menembakkan pistolnya. Dor... Preman itu tergeletak sementara
banyak orang tercengang ketakutan menyaksi kan adegan yang sekejap
itu .....
Pembaca masih bertanya apa yang terjadi. Padahal
feature itu bercerita tentang operasi pembersihan preman-preman yang
selama ini mengacau lingkungan pemukiman itu.
Lead Deskriptif:
Lead ini menceritakan gambaran dalam
pembaca tentang suatu tokoh atau suatu kejadian. Biasanya disenangi
oleh penulis yang hendak menulis profil seseorang.
Misal:
Keringat
mengucur di muka lelaki tua yang tangannya buntung itu, sementara
pemilik kendaraan merelakan uang kembalinya yang hanya dua ratus
rupiah. Namun lelaki itu tetap saja merogoh saku dengan tangan
kirinya yang normal, mengambil dua koin ratusan. Pak Saleh, tukang
parkir yang bertangan sebelah itu, tak ingin dikasihani
.....
Pembaca mudah terhanyut oleh lead begini, apalagi
penulisnya ingin membuat kisah Pak Saleh yang penuh warna.
Lead
Kutipan:
Lead ini bisa menarik jika kutipannya
harus memusatkan diri pada inti cerita berikutnya. Dan tidak
klise.
Misal:
"Saya lebih baik segera dihukum mati,
dibandingkan bebas dengan pengampunan. Apanya yang diampuni, saya kan
tak pernah bersalah," kata Amrozi Walau begitu, tim pembelanya
tetap mengajukan grasi... dan seterusnya.
Terkait dengan
perihal kutipan ini (dalam lead atau bukan lead) hati-hati dengan
kutipan klise.
Contoh:
"Pembangunan itu perlu untuk
mensejahterakan rakyat dan hasil-hasilnya sudah kita lihat bersama,"
kata Menteri X di depan masa yang melimpah ruah. Pembaca sulit
terpikat padahal bisa jadi yang mau ditulis adalah sebuah feature
tentang keterlibatan masyarakat dalam pembangunan yang agak
unik.
Lead Pertanyaan:
Lead ini menantang rasa ingin tahu
pembaca, asal dipergunakan dengan tepat dan pertanyaannya wajar saja.
Lead begini sebaiknya satu alinea dan satu kalimat, dan kalimat
berikutnya sudah alinea baru.
Misal:
Untuk apa mahasiswa
dilatih jurnalistik? Memang ada yang sinis dengan Pekan Jurnalistik
Mahasiswa yang diadakan ini. Soalnya, penerbitan pers di kampus ini
tak bisa lagi mengikuti kaidah-kaidah jurnalistik karena terlalu
banyaknya batasan-batasan dan larangan ....
Pembaca kemudian
disuguhi feature soal bagaimana kehidupan pers kampus di sebuah
perguruan tinggi.
Lead Menuding:
Lead ini berusaha berkomunikasi
langsung dengan pembaca dan ciri-cirinya adalah ada kata "Anda"
atau "Saudara". Pembaca sengaja dibawa untuk menjadi bagian
cerita, walau pembaca itu tidak terlibat pada persoalan.
Misal:
Saudara mengira sudah menjadi
orang yang baik di negeri ini. Padahal, belum tentu. Pernahkah
Saudara menggunakan jembatan penyeberangan kalau melintas di jalan?
Apakah Saudara menyetop bus kota tidak pada tempat larangan menaikkan
penumpang? Dan, ketika tidak menemukan tong sampah apakah
Saudara menyimpan atau mengantongi kulit kacang yang sudah siap
Saudara buang? Mungkin tak pernah sama sekali. Saudara tergolong
punya disiplin yang, maaf, sangat kurang.
Pembaca masih
penasaran feature ini mau bicara apa. Ternyata yang disoroti adalah
kampanye disiplin nasional.
Lead Penggoda:
Lead ini hanya sekadar menggoda dengan
sedikit bergurau. Tujuannya untuk menggaet pembaca agar secara tidak
sadar dijebak ke baris berikutnya. Lead ini juga tidak memberi tahu,
cerita apa yang disuguhkan karena masih teka-teki.
Misal:
Kampanye
menulis surat di masa pemerintahan Presiden Soeharto ternyata
berhasil baik dan membekas sampai saat ini. Bukan saja anak-anak
sekolah yang gemar menulis surat, tetapi juga para pejabat tinggi di
masa itu keranjingan menulis surat.
Nah, sampai di sini
pembaca masih sulit menebak, tulisan apa ini? Alinea
berikutnya:
Kini, ada surat yang membekas dan menimbulkan
masalah bagi rakyat kecil. Yakni, surat sakti Menteri PU kepada
Gubernur DKI agar putra Soeharto, Sigit, diajak berkongsi untuk
menangani PDAM DKI Jakarta. Ternyata bukannya menyetor uang tetapi
mengambil uang setoran PDAM dalam jumlah milyaran.... dan
seterusnya.
Pembaca mulai menebak-nebak, ini pasti feature
yang bercerita tentang kasus PDAM DKI Jaya. Tetapi, apa isi feature
itu, apakah kasus kolusinya, kesulitan air atau tarifnya, masih
teka-teki dan itu dijabarkan dalam alinea berikutnya.
Lead Nyentrik:
Lead ini nyentrik, ekstrim, bisa
berbentuk puisi atau sepotong
kata-kata pendek. Hanya baik jika
seluruh cerita bergaya lincah dan hidup cara
penyajiannya.
Misal:
Reformasi total.
Mundur. Sidang
Istimewa.
Tegakkan hukum.
Hapus KKN.
Teriakan itu
bersahut-sahutan dari sejumlah mahasiswa di halaman
gedung DPR/MPR
untuk menyampaikan aspirasi rakyat .... dst....
Pembaca
digiring ke persoalan bagaimana tuntutan reformasi yang disampaikan
mahasiswa.
Lead Gabungan:
Ini adalah gabungan dari beberapa jenis
lead tadi.
Misal:
"Saya tak pernah mempersoalkan
kedudukan. Kalau memang mau diganti, ya, diganti," kata Menteri
Hukum dan HAM sambil berjalan menuju mobilnya serta memperbaiki
sisiran rambutnya. Ia berusaha tersenyum cerah sambil menolak
menjawab pertanyaan wartawan. Ketika hendak menutup pintu mobilnya,
Menteri berkata pendek: "Eh, sudah nonton film Sam Po Kong
belum, nonton ya ...
Ini gabungan lead kutipan dan
deskriptif. Dan lead apa pun bisa digabung-gabungkan.
Batang
Tubuh
Setelah tahu bagaimana lead yang baik
untuk feature, tiba saatnya berkisah menulis batang tubuh. Yang
pertama diperhatikan adalah fokus cerita jangan sampai menyimpang.
Buatlah kronologis, berurutan dengan kalimat sederhana dan
pendek-pendek.
Deskripsi, baik untuk suasana maupun orang
(profil), mutlak untuk pemanis sebuah feature. Kalau dalam berita,
cukup begini: Pak Saleh mendapat penghargaan sebagai tukang parkir
teladan. Paling hanya dijelaskan sedikit soal Pak Saleh. Tapi dalam
feature, saudara dituntut lebih banyak. Profil lengkap Pak Saleh
diperlukan, agar orang bisa membayangkan.
Tapi tak bisa
dijejal begini:
Pak Saleh, tukang parkir di depan kampus itu, yang
tangan kanannya buntung, umurnya 50 tahun, anaknya 9, rumahnya di
Depok, dapat penghargaan. Data harus dipecah-pecah. Alenia pertama
cukup ditulis: Pak saleh, 50 tahun, dapat penghargaan. Lalu jelaskan
dari siapa penghargaan itu dan apa sebabnya. Pak Saleh yang tangannya
buntung itu merasakan cukup haru, ketika Wali Kota....
Di
bagian lain disebut: "Saya tidak mengharapkan," kata lelaki
dengan 9 anak yang tinggal di Depok ini. Dan seterusnya.Anekdot perlu
untuk sebuah feature. Tapi jangan mengada-ada dan dibikin-bikin. Dan
kutipan ucapan juga penting, agar pembaca tidak jenuh dengan suatu
reportase.
Detil penting tetapi harus tahu kapan terinci betul
dan kapan tidak. Preman itu tertembak dalam jarak 5 meter lebih 35
centi 6
melimeter..., apa pentingnya itu? Sebut saja sekitar 5
meter. Tapi, gol kemenangan Persebaya dicetak pada menit ke 43, ini
penting. Tak bisa disebut sekitar menit ke 45, karena menit 45 sudah
setengah main.
Dalam olahraga sepakbola, menit ke 43 beda jauh
dengan menit ke 30. Bahkan dalam atletik, waktu 10.51 detik banyak
bedanya dengan 10.24 detik.Ini sudah menyangkut bahasa jurnalistik,
nanti ada pembahasan khusus soal ini.
Ending
Jika batang tubuh sudah selesai,
tinggallah membuat penutup (dalam berita tidak ada penutup). Untuk
feature setidak-tidaknya ada empat jenis penutup.
Penutup
Ringkasan:
Sifatnya merangkum kembali
cerita-cerita yang lepas untuk mengacu kembali ke intro awal atau
lead.
Penutup Penyengat:
Membuat pembaca kaget karena sama
sekali tak diduga-duga. Seperti kisah detektif saja. Misalnya,
menulis feature tentang bandit yang berhasil ditangkap setelah
melawan. Kisah sudah panjang dan seru, pujian untuk petugas sudah
datang, dan bandit itu pun sudah menghuni sel. Tapi, ending
feature-nya adalah: Esok harinya, bandit itu telah kabur kembali.
Ending ini disimpan sejak tadi.
Penutup Klimak:
Ini penutup biasa karena cerita yang
disusun tadi sudah kronologis. Jadi penyelesaiannya jelas. Di masa
lalu, ada kegemaran menulis ending yang singkat dengan satu kata
saja: Semoga. Sekarang hal seperti ini menjadi tertawaan. Ini sebuah
bukti bahwa setiap masa ada kekhasannya.
Penutup tanpa
Penyelesaian:
Cerita berakhir dengan mengambang. Ini
bisa taktik penulis agar pembaca merenung dan mengambil kesimpulan
sendiri, tetapi bisa pula masalah yang ditulis memang menggantung,
masih ada kelanjutan, tapi tak pasti kapan.